Ini adalah peristiwa imaginer (khayalan) yang mengambil setting Final Liga Champions 2006/2007.
************************
Tiga lelaki populer di jagat raya sepakbola duduk berjajar di tribun VIP. Malam itu, di Spiridon Louis - stadion mewah seharga Rp 3 triliun - mereka bersiap menikmati hidangan mata yang tak pernah bosan disantap bertahun-tahun: Final Liga Champions.
Di Athena, Marcello Lippi, Gerard Houllier, dan Arsene Wenger menunjukkan apresiasinya, setidaknya kepada panitia, oleh satu hal : tak disejajarkan dengan Jose Mourinho. Antusiasme mereka menyambut laga AC Milan vs Liverpool mirip orang awam, penonton biasa, dan sepakat mengepak egonya sebagai ”gods of football” ternama di muka bumi.
”Malam ini ada 30 ribu orang Inggris di penjuru kota,” beber Lippi pada istrinya sambil mengetuk-ngetuk cerutu.
”Pendukung Milan kayaknya tegang,” timpal sang istri.
Tak lama, asap lisong dari mulut Lippi mulai mengitari sekelilingnya. Di sebelah kanan Lippi duduk Houllier, eks manajer Liverpool yang barusan mengaku boring menangani Lyon karena tak merasakan persaingan berarti di Prancis. Di sampingnya lagi bercokol teknokrat Arsenal, Arsene Wenger.
Di luar stadion, dua per tiga fans Liverpool bergemuruh, yang mengingatkan Yunani pada invasi bangsa Visigoth. Partisan Liverpudlian memenuhi dua kawasan basis Grande Bretagne (Great Britain) dan Syntagma Square.
Meski dengkul gemetar, polisi Athena tetap memelototi agresivitas mereka.
Sementara, sepertiganya lagi di dalam, terus menyanyikan ”You’ll Never Walk Alone”, yang perlahan kerap diikuti Lippi.
Pertandingan dimulai.
Ternyata janji sang hati sulit dipegang. Ketiganya memang tidak berjingkrakan. Tapi, tetap saja, kalau menonton bola, gestur seorang pelatih pasti tak seperti orang awam, terutama pola pikirnya.
Lippi seperti yang sering dilihat, duduk diam dengan ke-eleganan-nya.
Houllier kebalikannya. Kepalanya maju mundur bak kura-kura tengah menghadapi predator. Lazimnya dia, resah menyelimutinya, terutama kalau passing Liverpool macet atau salah arah. Acapkali, Houllier bergumam sendiri dengan bahasa Prancis. Komentarnya, seperti yang dihafal fans Liverpool, terlalu basa-basi kalau tak pantas disebut norak. Ia jadi begitu sebab kelamaan tak berada di Italia atau Inggris.
”Gerrard memberi dinamika dan energi permainan,” tukasnya pada Lippi, yang kadang dilakukannya sambil tersenyum.
”Dia bukan pemain defensif, lho,” ucapnya lagi di menit berbeda di mana mimik Lippi mulai menyeringai.
”Wah, Pirlo memang permatanya Milan,” puji Houllier saat gol perdana datang, kali ini tak berharap Lippi menoleh.
Houllier selalu begitu. Tak seperti kebanyakan pelatih dari Prancis, ia dikenal ekspresif dan senang menghidupkan suasana. Ia tak jera pada dua hal itu yang menjadi penyebab gangguan jantungnya saat berada di Anfield.
Waktu itu, pola pikirnya terlalu maju untuk klub berkebudayaan ortodoks. Uniknya selama menangani Lyon, Houllier malah jauh lebih tenang. Ia memang hanya butuh tempat dan waktu yang tepat serta menjaga kesehatannya. Jangan-jangan, dia malah lebih fleksibel dibanding Lippi atau Wenger.
“Anda setuju, teknik Milan lebih halus dari Liverpool?” begitu tanya Houllier pada Lippi saat jeda yang diiyakan Lippi.
Barangkali Lippi lebih cocok auranya dengan Wenger. Bukan saja dari kesamaan ekspresi diamnya itu, tapi juga isi kepala masing-masing. Lippi seolah bisa merasakan dinamika dan energi di diri Wenger meski sepanjang pertandingan rautnya full muram dan semi marah.
******************************
Ketika Pippo Inzaghi mencetak gol pertama, Wenger tampak mengangguk-angguk.
”Nah, apa saya bilang,” serunya. Lalu dia menguji Lippi dengan bertanya siapa menurutnya yang jadi Man of the match.
”Dida!” sambut Lippi tanpa ragu.
Walau unggul 1-0, keduanya belum yakin Milan bisa juara sebab Liverpool butuh gol balasan untuk membalikan keadaan. Peluang emas Gerrard dipatahkan Dida, dan di satu momen, bermula dari kejelian Dida pula, yang membuat Kaka sukses memberi umpan matang pada gol kedua Pippo yang memastikan kemenangan.
”Laga penuh taktik. Sangat efektif,” timpal Wenger.
Houllier sibuk menjadikan dirinya sebagai fans abadi Liverpool. Ia kesusahan mengendalikan emosinya.
Di menit 80, kala Carlo Ancelotti akan mengganti pemainnya, dia kembali mengagetkan.
”Kaladze memang yang tercepat dari beberapa pemain,” ungkapnya.
”Lihat, itu Kaladze !” kata Lippi rada surprise melihat bukan Paolo Maldini yang diganti, melainkan Marek Jankulovski.
Usai menang 2-1 atas Liverpool, Lippi tampak bahagia mengingat enam pemain Milan malam itu juga pernah membahagiakannya di Berlin 2006.
Namun, tak digantinya Maldini terus menggoda pikirannya. Setahun lalu selama sebulan berjuang di Jerman, ia nyaris menyesal karena tak memaksa Maldini ikut dalam timnas Italia.
Keterkejutan Lippi bersifat lateral dan mendalam.
Sejak lama ia kagum pada Milan untuk satu hal : terobosan tim medisnya.
Menurutnya, itulah awal sukses Milan. Lippi menyoroti The Milan Lab, laboratorium yang memadukan seluruh iptek olahraga, informatika, sibernetika, dan psikologi berteknologi tinggi yang dibangun sejak Juli 2002.
Kalau lembaga riset yang menjadi pusat medis, terapis dan rehabilitasi fisik dan mental itu mampu kembali meremajakan Maldini di lapangan hijau sampai 38 tahun, bahkan Billy Costacurta mencapai 41 tahun, barangkali Lippi boleh menduga Milan Lab tengah memprogram agar Kaka bisa main hingga 2025.
Seperti halnya Lippi, baik Houllier dan Wenger juga maestronya psycho-physical di sepakbola. Kebetulan, selain Milan dan FC Internazionale Milano, Arsenal juga memiliki tim medis sepakbola terbaik di dunia. Menjadi suratan takdir, Wenger adalah pewaris tunggal instalasi fisioterapis pertama di era modern yang dibangun manajer Arsenal 1925-1934, Herbert Chapman.
Inter adalah pihak yang pertama kali mendeteksi Nwankwo Kanu mengidap kelainan jantung. Padahal tiga tahun ia main kesetanan di Ajax. Walau ketiban pulung, selama tiga tahun cuma mengobatinya, Inter meraih reputasi. Ketika dinyatakan sembuh, Kanu dilego di mana hanya Wenger yang berani menghadapi risiko.
Perhatikan apa yang dilakukan Milan pada Maldini. Begitu taktisnya, sampai banyak yang lupa bahwa dia telah uzur untuk ukuran pemain bola. Saat ia mengangkat trofi, rasanya tahun itu bukan tahun 2007, tapi nyaris sama dengan Maldini di tahun 1987.
Milan Lab telah bekerja memenuhi targetnya.
**********************************
Tengok pula enerjiknya Pippo, finisher sejati berumur 33 tahun namun beraksi 10 tahun lebih muda. Setelah diterapi khusus di Milan Lab, Pippo tampil mengejutkan demi target puncak musim ini, seperti halnya Gli Azzurri di 2006, untuk membangun confidenza usai didera kasus Calciopoli.
Dia absen di Istanbul 2005 karena cedera lutut, tapi Athena 2007 adalah kota pentahbisan bagi Inzaghi. Secara tradisional, publik suka memusuhinya dengan pelbagai alasan.
Ia dicap sebagai tukang tipu, cengeng, sampai tak mengerti aturan offside.
Dua golnya ke gawang Liverpool amat tipikal. Gerakan memutarnya kurang dari satu detik selepas freekick Pirlo sulit dibayangkan. Gol pertama itu bak diukur. Gol kedua, 99 persen mirip. Sebelum bertindak, ia mengukur dulu posisi lawan. Dalam hitungan sepersekian detik pula ia melesat bak anak panah yang terlepas dari busurnya.
Mengikuti strategi permainan, maka mengakali offside adalah kata kunci partai final.
Hal ini sekalian merevisi ucapan Alex Ferguson yang pernah menyebut Pippo ”born to offside”. Bisa jadi Johan Cruyff juga tengah merenungi keefektifan striker yang pernah ia komentari : ”Pada dasarnya dia itu bukan main bola, dia hanya selalu berada dalam posisi yang tepat.”
*******************************
Milan Lab, yang di dalamnya berisi profesor-profesor psycho-physical, kedokteran, psikologi sampai ahli bedah, mampu membuyarkan teori Pippo. Karya Milan Lab tersukses lainnya adalah Andrea Pirlo, setelah di-overhaul dari kerongsokan mental. Ia termotivasi, seolah terlahir kembali dan membuat orang terjaga menyaksikannya.
Lewat Milan Lab pula Clarence Seedorf meraih kembali kepercayaan dirinya. Karier si Panther, begitu julukannya, sempat collapse lantaran depresi simultan sejak dari Ajax, Sampdoria, Real Madrid sampai Inter.
Seedorf yang fasih berbahasa Spanyol, Italia dan Inggris selain Belanda punya kelainan mirip megalomania dalam berkomunikasi, terlalu kritis, humor yang keterlaluan hingga kesulitan menyetir mobil.
Ujung-ujungnya, meminjam ungkapan Simon Zwartkruis, penulis biografinya, Seedorf dianggap terlampau cerewet dan selalu mencampuri urusan orang. Saat di Madrid, ia pernah didamprat Fabio Capello lantaran ikut menjelaskan taktik permainan.
“Silakan jadi pelatih, jika anda sudah yakin lebih pintar dari saya!” hardik Capello saat itu.
Hanya Milan yang mau mengerti dirinya. Di Milan Lab, ia ditangani khusus Bruno De Michelis, seorang pakar psikologi yang mengharamkan Seedorf berlatih fisik sampai jangka waktu tertentu. Ancelotti mengerti. Demi seorang Seedorf, seluruh skuad termasuk para pelatihnya, juga kena getahnya yakni harus mengikuti serangkaian psikotes.
Kehidupan tak melulu soal uang, nafsu atau ambisi. Pesepakbola, juga manusia biasa, yang butuh perhatian, motivasi dan ketulusan.
”Kini, dia sudah mau mendengar ucapan saya,” kata Kaká seolah membuka rahasia suksesnya bersama Seedorf membobol empat dari lima gol ke gawang Manchester United.
Waktu terus berjalan. Mulai hari esok, tanpa ilmu dan teknologi, atau cuma berbekal tradisi atau sentuhan Midas, apapun usaha yang dilakukan, lambat laun akan menemui kegagalan.
Tingkah Lippi, Houllier dan Wenger selama menonton bola selama 2 jam di Spiridon Louis, menjadi refleksi permainan di masa depan.
Hal penting yang patut diambil sebagai pelajaran dari Athena 2007 bahwa untuk menjadi pemenang, tak harus mengorbankan hal-hal yang justru paling mendasar.
Don’t change the winning team, dan orang Italia amat percaya dengan istilah ini.
Untuk memenangkan Liga Champions, Milan cuma butuh tim yang biasa-biasa saja, dan dengan pemain yang itu-itu lagi.
Milan Lab lah kuncinya!
************************
Tiga lelaki populer di jagat raya sepakbola duduk berjajar di tribun VIP. Malam itu, di Spiridon Louis - stadion mewah seharga Rp 3 triliun - mereka bersiap menikmati hidangan mata yang tak pernah bosan disantap bertahun-tahun: Final Liga Champions.
Di Athena, Marcello Lippi, Gerard Houllier, dan Arsene Wenger menunjukkan apresiasinya, setidaknya kepada panitia, oleh satu hal : tak disejajarkan dengan Jose Mourinho. Antusiasme mereka menyambut laga AC Milan vs Liverpool mirip orang awam, penonton biasa, dan sepakat mengepak egonya sebagai ”gods of football” ternama di muka bumi.
”Malam ini ada 30 ribu orang Inggris di penjuru kota,” beber Lippi pada istrinya sambil mengetuk-ngetuk cerutu.
”Pendukung Milan kayaknya tegang,” timpal sang istri.
Tak lama, asap lisong dari mulut Lippi mulai mengitari sekelilingnya. Di sebelah kanan Lippi duduk Houllier, eks manajer Liverpool yang barusan mengaku boring menangani Lyon karena tak merasakan persaingan berarti di Prancis. Di sampingnya lagi bercokol teknokrat Arsenal, Arsene Wenger.
Di luar stadion, dua per tiga fans Liverpool bergemuruh, yang mengingatkan Yunani pada invasi bangsa Visigoth. Partisan Liverpudlian memenuhi dua kawasan basis Grande Bretagne (Great Britain) dan Syntagma Square.
Meski dengkul gemetar, polisi Athena tetap memelototi agresivitas mereka.
Sementara, sepertiganya lagi di dalam, terus menyanyikan ”You’ll Never Walk Alone”, yang perlahan kerap diikuti Lippi.
Pertandingan dimulai.
Ternyata janji sang hati sulit dipegang. Ketiganya memang tidak berjingkrakan. Tapi, tetap saja, kalau menonton bola, gestur seorang pelatih pasti tak seperti orang awam, terutama pola pikirnya.
Lippi seperti yang sering dilihat, duduk diam dengan ke-eleganan-nya.
Houllier kebalikannya. Kepalanya maju mundur bak kura-kura tengah menghadapi predator. Lazimnya dia, resah menyelimutinya, terutama kalau passing Liverpool macet atau salah arah. Acapkali, Houllier bergumam sendiri dengan bahasa Prancis. Komentarnya, seperti yang dihafal fans Liverpool, terlalu basa-basi kalau tak pantas disebut norak. Ia jadi begitu sebab kelamaan tak berada di Italia atau Inggris.
”Gerrard memberi dinamika dan energi permainan,” tukasnya pada Lippi, yang kadang dilakukannya sambil tersenyum.
”Dia bukan pemain defensif, lho,” ucapnya lagi di menit berbeda di mana mimik Lippi mulai menyeringai.
”Wah, Pirlo memang permatanya Milan,” puji Houllier saat gol perdana datang, kali ini tak berharap Lippi menoleh.
Houllier selalu begitu. Tak seperti kebanyakan pelatih dari Prancis, ia dikenal ekspresif dan senang menghidupkan suasana. Ia tak jera pada dua hal itu yang menjadi penyebab gangguan jantungnya saat berada di Anfield.
Waktu itu, pola pikirnya terlalu maju untuk klub berkebudayaan ortodoks. Uniknya selama menangani Lyon, Houllier malah jauh lebih tenang. Ia memang hanya butuh tempat dan waktu yang tepat serta menjaga kesehatannya. Jangan-jangan, dia malah lebih fleksibel dibanding Lippi atau Wenger.
“Anda setuju, teknik Milan lebih halus dari Liverpool?” begitu tanya Houllier pada Lippi saat jeda yang diiyakan Lippi.
Barangkali Lippi lebih cocok auranya dengan Wenger. Bukan saja dari kesamaan ekspresi diamnya itu, tapi juga isi kepala masing-masing. Lippi seolah bisa merasakan dinamika dan energi di diri Wenger meski sepanjang pertandingan rautnya full muram dan semi marah.
******************************
Ketika Pippo Inzaghi mencetak gol pertama, Wenger tampak mengangguk-angguk.
”Nah, apa saya bilang,” serunya. Lalu dia menguji Lippi dengan bertanya siapa menurutnya yang jadi Man of the match.
”Dida!” sambut Lippi tanpa ragu.
Walau unggul 1-0, keduanya belum yakin Milan bisa juara sebab Liverpool butuh gol balasan untuk membalikan keadaan. Peluang emas Gerrard dipatahkan Dida, dan di satu momen, bermula dari kejelian Dida pula, yang membuat Kaka sukses memberi umpan matang pada gol kedua Pippo yang memastikan kemenangan.
”Laga penuh taktik. Sangat efektif,” timpal Wenger.
Houllier sibuk menjadikan dirinya sebagai fans abadi Liverpool. Ia kesusahan mengendalikan emosinya.
Di menit 80, kala Carlo Ancelotti akan mengganti pemainnya, dia kembali mengagetkan.
”Kaladze memang yang tercepat dari beberapa pemain,” ungkapnya.
”Lihat, itu Kaladze !” kata Lippi rada surprise melihat bukan Paolo Maldini yang diganti, melainkan Marek Jankulovski.
Usai menang 2-1 atas Liverpool, Lippi tampak bahagia mengingat enam pemain Milan malam itu juga pernah membahagiakannya di Berlin 2006.
Namun, tak digantinya Maldini terus menggoda pikirannya. Setahun lalu selama sebulan berjuang di Jerman, ia nyaris menyesal karena tak memaksa Maldini ikut dalam timnas Italia.
Keterkejutan Lippi bersifat lateral dan mendalam.
Sejak lama ia kagum pada Milan untuk satu hal : terobosan tim medisnya.
Menurutnya, itulah awal sukses Milan. Lippi menyoroti The Milan Lab, laboratorium yang memadukan seluruh iptek olahraga, informatika, sibernetika, dan psikologi berteknologi tinggi yang dibangun sejak Juli 2002.
Kalau lembaga riset yang menjadi pusat medis, terapis dan rehabilitasi fisik dan mental itu mampu kembali meremajakan Maldini di lapangan hijau sampai 38 tahun, bahkan Billy Costacurta mencapai 41 tahun, barangkali Lippi boleh menduga Milan Lab tengah memprogram agar Kaka bisa main hingga 2025.
Seperti halnya Lippi, baik Houllier dan Wenger juga maestronya psycho-physical di sepakbola. Kebetulan, selain Milan dan FC Internazionale Milano, Arsenal juga memiliki tim medis sepakbola terbaik di dunia. Menjadi suratan takdir, Wenger adalah pewaris tunggal instalasi fisioterapis pertama di era modern yang dibangun manajer Arsenal 1925-1934, Herbert Chapman.
Inter adalah pihak yang pertama kali mendeteksi Nwankwo Kanu mengidap kelainan jantung. Padahal tiga tahun ia main kesetanan di Ajax. Walau ketiban pulung, selama tiga tahun cuma mengobatinya, Inter meraih reputasi. Ketika dinyatakan sembuh, Kanu dilego di mana hanya Wenger yang berani menghadapi risiko.
Perhatikan apa yang dilakukan Milan pada Maldini. Begitu taktisnya, sampai banyak yang lupa bahwa dia telah uzur untuk ukuran pemain bola. Saat ia mengangkat trofi, rasanya tahun itu bukan tahun 2007, tapi nyaris sama dengan Maldini di tahun 1987.
Milan Lab telah bekerja memenuhi targetnya.
**********************************
Tengok pula enerjiknya Pippo, finisher sejati berumur 33 tahun namun beraksi 10 tahun lebih muda. Setelah diterapi khusus di Milan Lab, Pippo tampil mengejutkan demi target puncak musim ini, seperti halnya Gli Azzurri di 2006, untuk membangun confidenza usai didera kasus Calciopoli.
Dia absen di Istanbul 2005 karena cedera lutut, tapi Athena 2007 adalah kota pentahbisan bagi Inzaghi. Secara tradisional, publik suka memusuhinya dengan pelbagai alasan.
Ia dicap sebagai tukang tipu, cengeng, sampai tak mengerti aturan offside.
Dua golnya ke gawang Liverpool amat tipikal. Gerakan memutarnya kurang dari satu detik selepas freekick Pirlo sulit dibayangkan. Gol pertama itu bak diukur. Gol kedua, 99 persen mirip. Sebelum bertindak, ia mengukur dulu posisi lawan. Dalam hitungan sepersekian detik pula ia melesat bak anak panah yang terlepas dari busurnya.
Mengikuti strategi permainan, maka mengakali offside adalah kata kunci partai final.
Hal ini sekalian merevisi ucapan Alex Ferguson yang pernah menyebut Pippo ”born to offside”. Bisa jadi Johan Cruyff juga tengah merenungi keefektifan striker yang pernah ia komentari : ”Pada dasarnya dia itu bukan main bola, dia hanya selalu berada dalam posisi yang tepat.”
*******************************
Milan Lab, yang di dalamnya berisi profesor-profesor psycho-physical, kedokteran, psikologi sampai ahli bedah, mampu membuyarkan teori Pippo. Karya Milan Lab tersukses lainnya adalah Andrea Pirlo, setelah di-overhaul dari kerongsokan mental. Ia termotivasi, seolah terlahir kembali dan membuat orang terjaga menyaksikannya.
Lewat Milan Lab pula Clarence Seedorf meraih kembali kepercayaan dirinya. Karier si Panther, begitu julukannya, sempat collapse lantaran depresi simultan sejak dari Ajax, Sampdoria, Real Madrid sampai Inter.
Seedorf yang fasih berbahasa Spanyol, Italia dan Inggris selain Belanda punya kelainan mirip megalomania dalam berkomunikasi, terlalu kritis, humor yang keterlaluan hingga kesulitan menyetir mobil.
Ujung-ujungnya, meminjam ungkapan Simon Zwartkruis, penulis biografinya, Seedorf dianggap terlampau cerewet dan selalu mencampuri urusan orang. Saat di Madrid, ia pernah didamprat Fabio Capello lantaran ikut menjelaskan taktik permainan.
“Silakan jadi pelatih, jika anda sudah yakin lebih pintar dari saya!” hardik Capello saat itu.
Hanya Milan yang mau mengerti dirinya. Di Milan Lab, ia ditangani khusus Bruno De Michelis, seorang pakar psikologi yang mengharamkan Seedorf berlatih fisik sampai jangka waktu tertentu. Ancelotti mengerti. Demi seorang Seedorf, seluruh skuad termasuk para pelatihnya, juga kena getahnya yakni harus mengikuti serangkaian psikotes.
Kehidupan tak melulu soal uang, nafsu atau ambisi. Pesepakbola, juga manusia biasa, yang butuh perhatian, motivasi dan ketulusan.
”Kini, dia sudah mau mendengar ucapan saya,” kata Kaká seolah membuka rahasia suksesnya bersama Seedorf membobol empat dari lima gol ke gawang Manchester United.
Waktu terus berjalan. Mulai hari esok, tanpa ilmu dan teknologi, atau cuma berbekal tradisi atau sentuhan Midas, apapun usaha yang dilakukan, lambat laun akan menemui kegagalan.
Tingkah Lippi, Houllier dan Wenger selama menonton bola selama 2 jam di Spiridon Louis, menjadi refleksi permainan di masa depan.
Hal penting yang patut diambil sebagai pelajaran dari Athena 2007 bahwa untuk menjadi pemenang, tak harus mengorbankan hal-hal yang justru paling mendasar.
Don’t change the winning team, dan orang Italia amat percaya dengan istilah ini.
Untuk memenangkan Liga Champions, Milan cuma butuh tim yang biasa-biasa saja, dan dengan pemain yang itu-itu lagi.
Milan Lab lah kuncinya!



0 komentar:
Posting Komentar